Melatih Daya Jiwa

Jika Anda pernah melihat seorang pemuda yang rutin melatih otot-otot tubuhnya di pusat kebugaran, Anda akan takjub melihat betapa kekar otot-otot tubuhnya: kuat dan perkasa. Begitulah hasilnya jika seseorang rajin melatih otot-otot tubuhnya. Sebaliknya jika seseorang tidak pernah melatih atau bahkan menggunakan ototnya, otot-ototnya bukan saja tidak berkembang tapi bisa jadi malah mengalami pengecilan atau antropi: akhirnya tidak bisa berfungsi secara normal.

Bagaimanakah dengan otot-otot jiwa? Tak ubahnya seperti otot-otot tubuh, otot-otot jiwa pun bisa dilatih. Seorang anak yang sering mengasah otaknya dengan mengerjakan soal-soal matematika misalnya, ‘otot-otot otaknya’-nya pun akan berkembang, maka dia tumbuh menjadi anak yang pintar.

Dalam literatur kebatinan Jawa, disebutkan terdapat empat macam nafsu yang menyertai perjalanan hidup manusia: luamah, amarah, supiyah, dan mutmainah. Keempat nafsu tersebut adalah daya-daya jiwa yang selalu bisa dilatih agar semakin besar kekuatannya. Keempat nafsu tersebut ibarat pohon: pohon mana yang paling sering Anda sirami, Anda kasih pupuk, itulah yang akan tumbuh menjadi pohon yang paling besar, sehingga menaungi pohon-pohon lainnya: sehingga pohon-pohon lainnya pun akan kehilangan daya kekuatannya atau bahkan mati tidak berkembang.

Daya-daya tersebut bukan saja bisa tumbuh dan berkembang, tapi juga memiliki alamnya sendiri-sendiri. Nafsu amarah, misalnya, berada di alam yang gelap dan panas, orang menyebutnya neraka. Nafsu mutmainah berada di alam yang terang dan sejuk, orang menyebutnya surga.

Seseorang yang cenderung mengeluh dan menghitung-hitung kesalahan orang lain, dia sedang melatih daya amarah-nya, sehingga daya itu pun makin lama makin besar sehingga mendominasi sikapnya dan perilakunya sehari-hari, dan akhirnya menaunginya dengan sifat yang terdapat di dalam daya amarah, yaitu gelap dan panas. Sebaliknya seorang yang selalu mensyukuri apapun yang ia terima, dan menghitung-hitung kebaikan orang lain: dia sedang melatih daya-daya mutmainah-nya, sehingga ibarat pohon yang terus disirami dan diberi pupuk akan tumbuh menjadi pohon yang besar, dan mendominasi sikap dan perilakuknya dan menaunginya dengan sifat di dalam daya mutmainah: terang dan sejuk.