Memuji Nabi Shallaahu Alaihi Wasallam Secara Berlebihan

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling mulia di muka bumi. Seorang Rasul satu-satunya yang memiliki syafa’at agung pada hari Kiamat. Orang yang pertama kali membuka pintu Surga. Seorang yang diakui ketinggian akhlaknya oleh para sahabat bahkan hingga oleh orang-orang yang memusuhinya. Seorang hamba yang karena keluhuran akhlaknya mendapat pujian langsung dari Allah dalam firmanNya, artinya: “Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) berada dalam budi pekerti yang agung.”

Meski demikian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kita memujinya secara berlebihan. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jangan memujiku berlebihan sebagaimana orang-orang Nashrani memuji berlebihan kepada Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba maka katakanlah, hamba Allah dan RasulNya’.” (HR. Al-Bukhari).

Apa al-ithra’ (memuji berlebihan) itu?

Al-Ithra’ yang dilarang adalah memuji berlebihan dan melampaui batas hingga terjerumus pada yang haram, kebatilan, dusta bahkan syirik. Batas syirik inilah yang dilanggar orang-orang Nashrani hingga mereka mengatakan, ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam adalah Allah, atau putra Allah atau salah satu dari yang tiga’.

Menunjukkan keharamannya

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kita memujinya secara berlebihan bukanlah sikap merendah (tawadhu’) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi suatu syari’at yang menegaskan diharamkannya hal tersebut. Keharaman al-ithra’ ini, bahkan ditegaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamdalam banyak kesempatan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang laki-laki berkata: “Wahai Muhammad, wahai tuan kami, putra dari tuan kami, orang terbaik kami dan putra dari orang terbaik kami.” Maka serta merta Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyangkal: “Wahai manusia, berhati-hatilah dengan ucapan kalian, dan jangan terpedaya oleh setan. Saya adalah Muhammad bin Abdullah, hamba Allah dan RasulNya. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak menyukai kalian menyanjungku melebihi kedudukan yang telah diberikan Allah kepadaku.” (HR. Ahmad)

Dalam kisah delegasi suku Bani Amir, di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ada yang menyanjung: “Di tengah-tengah kita ada Nabi yang mengetahui apa yang (akan terjadi) besok.” Maka spontan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingkari perkataan tersebut seraya bersabda: “Tinggalkanlah yang ini.” (HR. Al-Bukhari).

Dalam riwayat Ibnu Majah ditambah-kan: “Tidak ada yang mengetahui apa yang (akan terjadi) besok kecuali Allah.”

Kenyataan kaum muslimin

Kebodohan yang melanda Ummat Islam tentang din (agama)nya menjadikan sebagian mereka terjerumus pada syirik ketika memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara mereka, ada seorang penyair yang memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sya’ir Ya Rabbi bil ..dengan mengatakan: “Wahai (Nabi), makhluk yang paling mulia, kepada siapa aku berlindung, selain kepadamu, ketika terjadi bencana yang merata.” Bagaimana bisa penyair itu mengatakan demikian, padahal tidak kepada seorang pun kita boleh berlindung kecuali kepada Allah saja?
Penyair tersebut ucapannya mengandung syirik besar. Penyair yang sama juga mengatakan :” Sesungguhnya di antara kedermawanan-mu (wahai Nabi) adalah dunia seisinya. Dan di antara ilmumu adalah ilmu Lauhul Mahfuzh dan Al-Qalam (takdir).”

Penyair itu menempatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kedudukan yang tak terjangkau akal sehat serta mengira bahwa Nabi shalllallahu ‘alaihi wasallam mengetahui hal-hal ghaib. Padahal Allah berfirman, artinya: “Katakanlah, tidak seorangpun di langit dan di bumi mengetahui yang ghaib kecuali Allah.” (An-Naml: 65).

Apa yang dilakukan oleh penyair tersebut, juga oleh orang-orang sejenisnya bukanlah karena kecintaan mereka yang mendalam kepada Nabi, tetapi lebih karena kebodohan mereka.

Sebaliknya generasi pertama, seperti para sahabat, tabi’in dan para ahli ilmu, mereka adalah orang-orang yang sangat memuliakan Nabi dan yang paling dalam kecintaan mereka kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam . Tetapi meski demikian, mereka tidak pernah terjerumus kepada sanjungan yang berlebihan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam .

Sebagai contoh adalah pujian sahabat Hasan bin Tsabit kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam . Dalam syairnya, Hasan bin Tsabit mengatakan: “Tidaklah orang-orang terdahulu kehilangan (seseorang) seperti kehi-langan Muhammad, tidak pula akan ada yang kehilangan seperti kehilangan beliau hingga hari Kiamat.”

Haramnya al-ithra

Sebagian orang mengira, al-ithra’ (pujian berlebihan) yang dilarang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang sampai pada derajat menuhankan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam , sebagaimana yang dilakukan orang-orang Nashrani terhadap Isa bin Maryam ‘alaihissalam, adapun selainnya maka dibolehkan.

Ini adalah pemahaman keliru. Pema-haman ini dibantah oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Maka katakanlah, ‘hamba Allah dan RasulNya’.”

Dalam hadits tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pujian yang diharamkan, lalu menunjukkan hendaknya pujian itu tidak melampaui kedudukannya sebagai hamba Allah yang tidak bisa mendatangkan manfaat atau madharat, baik untuk dirinya atau pun orang lain. Allah berfirman, artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Aku tidak bisa memiliki (mendatangkan) manfaat maupun madharat untuk diriku kecuali jika dikehendaki oleh Allah.” (Al-A’raf: 144).

Adapun keistimewaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atas segenap manusia yang lain adalah bahwa Allah memilihnya untuk mengemban risalah dan amanat wahyu, sebagaimana firman Allah, artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Sesungguhnya aku hanya-lah adalah manusia biasa seperti kalian, yang diberikan wahyu kepadaku.” (Al-Kahfi: 110).

Tindakan prefentif (penjagaan)

Larangan memuji berlebihan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah untuk menjaga Ummat Islam agar tidak terjerumus pada hal-hal yang diharamkan. Sama halnya ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang laki-laki berkhalwat (berduaan) dengan wanita bukan mahramnya. Ini adalah bentuk penjagaan agar umat Islam tidak terjerumus pada perbuatan zina.

Upaya prefentif terbesar yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah penjagaan agar Ummat Islam tidak terjerumus pada perbuatan dosa terbesar, yaitu syirik. Sedangkan sarana termudah yang menjerumuskan orang kepada syirik adalah mengagung-agungkan orang-orang shalih dari kalangan para Nabi , wali, dan ulama secara berlebihan. Baik dalam bentuk ucapan dengan memuji mereka secara berlebihan, atau dalam bentuk tindakan dan ini yang lebih banyak terjadi dengan berbagai macamnya. Dan yang paling umum terjadi adalah dengan mengagungkan kuburan mereka, membangunnya dan menjadikannya sebagai tempat ibadah.

Inilah yang sangat dilarang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai-sampai sebelum sakaratul maut, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan: ” Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani, mereka menjadikan kuburan para Nabinya sebagai tempat ibadah (masjid). Aisyah berkata, ‘Beliau memperingatkan dari perbuatan mereka’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Sahabat Jabirzmeriwayatkan: “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mengapur kuburan dan membangun (sesuatu) di atasnya.” (HR. Muslim).

Dan masih banyak lagi hadits lain yang melarang pengagungan berlebihan kepada manusia. Itu semua untuk menjaga Ummat Islam agar terbebas dari syirik. Amin. (Disadur dari Silsilah Manahij Dauratil Ulum Asy-Syar’iyyah wal ‘Arabiyyah, Ainul Haris)