Menjaga Hati

Semoga Allah Yang Maha Kuasa memberikan kepada kita kearifan yang berasal dari hadirat-Nya, karena kita mungkin saja memiliki pengetahuan, tapi jika tidak mempunyai kearifan…, pengetahuan tidak akan berguna. Kita membutuhkan kearifan, dan sebuah kearifan yang “kecil” adalah lebih penting dari semua pengetahuan yang ada di dunia ini. Pengetahuan tidak dapat mendorong ataupun menarikmu, tapi kearifan bisa. Dalam sebuah kearifan terdapat kekuatan. Oleh karenanya, pengetahuan tanpa kearifan tidak dapat memberikan kegunaan apa-apa.

Jika pengetahuan dapat memberikan kegunaan bagi seseorang, hal itu akan memberikan kegunaan bagi syaitan. Dia (Syaitan) hebat dalam pengetahuan, mengetahui tentang injil, mengetahui tentang taurat, mengetahui tentang zabur, dan juga Al-Quran yang suci. Tidak ada ilmuwan yang dapat menandingi syaitan; syaitan muncul terlebih dahulu, dia mengetahui banyak hal! Tapi tanpa kearifan, maka dia terjatuh. Maka, tidaklah begitu penting untuk belajar begitu banyak hal, mengetahui berbagai hal, tapi adalah hal penting untuk memohon kearifan kepada Allah Sang Maha Perkasa. Walaupun bentuknya hanya sebuah kearifan, itu akan cukup untukmu selamanya, untuk mengantarkan engkau kepada kesenangan, dan ketentraman di dunia maupun akhirat, untuk menggapai rasa sayang dan suka dari Tuhanmu.Allah Sang Maha Perkasa “mengirimkan” 6666 ayat dalam Al-Quran.

Setiap ayat adalah seperti lautan yang tiada bertepi, dan lautan itu penuh dengan mutiara yang sangat berharga. Tapi jika mutiara dapat ditemukan dengan mudah, maka dia akan murah, tidak berharga. Mengapa mutiara berharga, mempunyai nilai? Karena mutiara didapat di lautan yang sangat dalam, dan di tempat yang sangat berbahaya. Allah Sang Maha Kuasa selalu membuat sesuatu yang berharga dan bernilai, terjaga… terlindungi, maka dia tidak dapat dicapai dengan mudah. Sekuntum mawar tanpa duri, dan harta karun tanpa “naga”- tidak! Apapun yang dapat engkau dapati dengan mudah, adalah murah. Engkau dapat membeli tomat, kentang, bawang, disemua tempat, tapi batu rubi, berlian, mutiara, tidak dapat ditemukan disetiap tempat, walaupun engkau akan menemukan begitu banyak kaca. Dan dari lautan, kalian dapat mengambil ikan, dapat mengambil kerang, bahkan sang laut melemparkan kerang ke pantai, tapi… tidak pernah mutiara! Dan setiap ayat Al-Quran adalah seperti lautan yang tiada bertepi. Hanya orang yang mempersiapkan dirinya untuk menyelam kedalamnya yang akan dapat.

Bagaimana bisa seseorang menyelam kedalam lautan dengan berpakaian seperti ini? Tidak ada orang yang ingin menyelam kedalam lautan, memakai pakaian. Orang ingin melepaskan semua yang dia bisa lepas untuk menyelam. Dan untuk “Lautan ayat Al-Quran”, kalian harus melepaskan segalanya, barulah kalian bisa menyelam kedalamnya. Apa yang kita lepas? Tentu bukan barang-barang seperti baju ini. Kalian harus melepaskan semua yang menjadi milik dunia ini dari hatimu, kalian harus melepaskan dari hatimu, “dunia”, kesenangan-kesenangan duniawi. Dan kalian harus mengetahui apa itu dunia.

Semua yang mengambil “tempat” dalam dirimu ataupun mengikat dirimu (sehingga terpisah) dari Tuhanmu dan kalian mendapat kenikmatan darinya, itulah dunia. Semua hal yang mengambil tempat dalam diri seorang “pelayan” dari Tuhannya, itulah dunia. Ini adalah hal terpenting untuk semua orang, bagi setiap orang yang percaya, tidak soal apakah keimanannya itu Yahudi, Kristen ataupun Islam. Ketika Allah Sang Maha Kuasa “melihat” kedalam hatinya, oleh apakah hatinya itu terisi?

Allah Sang Maha Kuasa tidak melihat gelar yang kita taruh disini (didada), tidak!. Dia melihat kedalam hati kita, dan melihat apa yang mengisinya. Apakah hati itu terisi “hanya” oleh-Nya ataukah oleh dunia?

Kalian harus tahu bahwa Allah Sang Maha Kuasa memberikan ijin untuk semua bagian tubuhmu untuk “bekerja”, untuk terkait dengan kehidupan ini, “terkecuali” hatimu. Kalian mungkin “terikat” dengan tubuhmu tidak masalah, karena kita hidup didalam kehidupan seperti ini, dan tentulah kita mempunyai beberapa tanggungjawab. Allah Sang Maha Kuasa memberikan ijin kepada organ-organ tubuh kita untuk bergerak, datang dan pergi, untuk melihat-lihat, untuk melakukan berbagai hal, tapi Dia “berkata”, “Hanya hatimu…, jangan biarkan ia terikat oleh dunia”

Tetapkan hatimu, hanya… dan hanya untuk Tuhanmu, dan Dia akan suka kepadamu. Dan ketika Dia suka kepadamu, Dia akan membuatmu suka terhadapNya. Itulah “sa’adat al-kubro”, sebuah kenikmatan yang paling tinggi!. Engkau akan diberikan kesenangan yang tidak berbatas, ketika Allah Sang Maha Kuasa membuat kita senang. Kita memohon agar Dia suka terhadap kita, kita mencoba untuk membuat Dia senang dengan kita. Semuanya, selain hal itu, tidak membuat Tuhan kita suka terhadap kita. “Rasa suka” Allah Yang Maha Kuasa kepada hambanya “tercurah penuh”, ketika hambanya itu memberikan hatinya kepada Dia…, Allah Sang Maha Kuasa. Tapi itu bukanlah hal yang mudah. Itu adalah perintah tersulit dan suatu bentuk ibadah yang paling penting. Dan…, setiap bentuk ibadah dan sholat yang kita kerjakan dengan tubuh ini, sebenarnya adalah untuk memenuhi tujuan itu, “ibadah tubuh” itu “hanyalah” untuk “mentransfer” dari tubuh menuju hati kita, karena segala bentuk peribadahan adalah berarti memberikan respek/perhatian kepada Tuhan kita (dan memberi perhatian itu adalah pekerjaan hati). Kita dapat memberi respek/perhatian dengan tubuh kita, namun bentuk perhatian itu pasti mempunyai keterbatasan. Tapi buat orang yang memberi perhatian dengan hati, maka perhatian itu tidak mempunyai batas. Dan kita diperintah untuk menyembah, berbakti dan beribadah kepada Tuhan kita, tanpa batas. Kita tidak dapat melakukan hal itu dengan tubuh ini, tapi kita bisa melakukannya dengan hati.Itulah suatu bentuk kearifan untuk diketahui dan untuk dikerjakan.

Dan itu cukup untuk kita, dibandingkan dengan mempelajari beribu-ribu buku, dan membuat “gudang” pengetahuan. Lalu kalian tidak bisa membawanya, “gudang pengetahuan” itu menjadi terlalu berat dan akhirnya berubah menjadi beban. Tapi hal itu (pokok pembicaraan diatas) adalah suatu kearifan yang sederhana, yang membuat kita melangkah maju menuju Tuhan kita. Dia mengundang kita, dan kita harus melangkah maju menuju-Nya.

Allah Sang Maha Perkasa, memilih diantara hamba-Nya untuk diberikan kearifan Ilahiyah-Nya. Ketika Dia melihat hati hambanya dan melihat “diri-Nya” dan hanya “diri-Nya Seorang”, Dia memberikan karunia kepada orang itu yang berasal dari kearifan Ilahi. Tapi jika ada orang yang mempersembahkan hatinya untuk dunia, untuk “nafs”nya, maka orang itu mungkin saja diberi pengetahuan yang banyak…, namun tanpa nilai guna. Itulah mengapa Rasul Saw, memohon kepada Allah Swt, “ilman naf’ian”, pengetahuan yang memiliki nilai guna – dan itu adalah hikmah…, itu… adalah kearifan.

Jalan ini tidak mudah, tapi kita harus mengusahakannya. Pertama-tama, kalian harus “memangkas” keinginan egoistis, dan kalian harus memberikan “garis batas” bagi egomu, dari hasratnya. Jika kalian membiarkan egomu, bebas… lepas…, maka kalian tidak akan
menemukan “garis batas” darinya, dari hasratnya…, sehingga dia akan selalu mengisi dirimu, dan membuat dirimu berubah menjadi budaknya, dan tidak ada waktu lagi untuk memberikan pelayanan untuk Tuhanmu, untuk beribadah kepada Tuhanmu…. Itulah mengapa, kita harus memberikan “garis batas” kepada hasratnya. Dan kini kita hidup dalam waktu dan tempat dimana semuanya… semua hal, mendorong dan memaksa ego kita untuk meminta lebih, dan lebih banyak lagi, hasrat yang tiada batas.

Pertama, kita harus menghentikan hal itu. Kalian harus berkata: “Inilah batasmu” – dalam makan, dalam minum, dalam berpakaian, dalam bekerja…, karena semua kitab suci datang dari Ilahi dengan membawa perintah untuk “memberi batasan” kepada anak cucu Adam as, dan ini adalah hal baik, suatu hal yang dikenal dengan nama “halal” dan “haram”, hal yang boleh dan tidak boleh. Allah Sang Maha Kuasa, menentukan batas. Jangan melanggar batas- batas itu! Dan jika kalian tidak menegakkan tanda-tanda batas itu, maka pasti kalian akan melanggarnya. Dan semua syariat, adalah ditujukan untuk semua orang, untuk setiap anak cucu Adam as. Setiap orang mempunyai kewajiban untuk mengerjakan syariat itu, hukum Ilahi yang suci.

Allah Sang Maha Kuasa, mengetahui ego kita dan semua hasratnya. Dia tahu hal itu dengan sempurna. Jika tidak ditancapkan sebuah batas, maka hal itu akan sangat berbahaya dan kacau balau. Langkah pertama adalah bagaimana mengetahui batasan-batasan itu. Jangan biarkan egomu merengek…, meminta darimu tanpa batas!

Dalam bulan suci Ramadhan, puasa mengajarkan diri kita bagaimana agar kita sanggup memberikan batas bagi hasrat ego kita. Itulah mengapa, puasa adalah bentuk ibadah yang paling penting. Tanpa bentuk peribadahan seperti itu, tidak mungkin, untuk “berdiri di depan” egomu, untuk mengarahkannya, untuk menundukan dan menyuruhnya, “Lakukan ini, jauhkan itu!”. Jika kalian tidak dapat melakukan hal itu, berarti kalian lemah dan ego kalian akan menunggangi dirimu, dan mengajakmu kemanapun dia suka, dan hal itu sangat berbahaya sekaligus kacau balau. Itulah mengapa, puasa adalah pintu utama untuk setiap bentuk peribadahan, karena akan menjadi tidak berguna, melakukan ibadah, namun kita tidak dapat “berdiri di depan” ego dan menundukkannya.

Dan ketika kita melangkah maju menuju Allah Sang Maha Perkasa…, ketika seorang hamba memohon kepada Penguasanya, dan pergi menuju hadiratNya, Dia… Allah, akan menjadikan “kehendak Ilahiyah-Nya” menghampiri sang hamba itu. Ketika kalian berjalan satu langkah menuju “tujuan”mu, Allah menyuruh “tujuan”mu untuk mendekat sepuluh langkah.

Kadang-kadang “tujuan” kita itu datang begitu dekat. Kita mungkin dapat mencapainya jika kita dapat maju satu langkah lagi, tapi ego kita, memotong langkah ini. Ketika hal itu terjadi, kita akan menemukan diri kita terpental jauh. Kita tidak memperhatikan hal-hal kecil, tetapi mereka (hal-hal tersebut) memberikan kita begitu banyak bahaya, membuat kita menjadi seperti saat kita baru mulai melangkah…, terjatuh. Itulah mengapa, setiap orang yang percaya (orang beriman), setiap muslim, harus tahu hal itu, ketika dia sedang berjalan menuju Tuhannya, ada empat musuh yang mengelilinginya, untuk membuat dirinya “berbelok” dari jalan itu. Ketika kalian ingin berjalan satu langkah, 100 syaitan datang untuk mencegah dirimu untuk melakukan langkah itu. Lalu…, 1000 syaitan menyerang, untuk membuat dirimu kembali.

Kalian tidak dapat melakukannya tanpa kekuatan Tuhanmu. Itulah mengapa kita mengucapkan, “La hawla wa la quwwata illa bilLah al `Aliyul Azhim” (tiada kekuatan kecuali bersama Allah, Yang Maha Tinggi dan Maha Perkasa – kalimat yang biasa diucapkan seorang muslim untuk mengekspresikan totalitas ketergantungannya kepada Allah). Kita berkata, “Ya, Tuhanku, kami tidak dapat keluar dari jalan yang sesat untuk berada di jalan-Mu, tanpa kekuatan-Mu, tanpa kehendak-Mu. Ya Allah, berikan kami kekuatan dari Mu, untuk mantap menjejakkan kaki kami di atas jalan-Mu.

Hari-hari di bulan Ramadhan baik siang maupun malam, datang hanya sekali setiap tahun, dan bulan suci itu akan cepat berlalu. Mereka adalah hari-hari “ghanimah” (hari-hari yang penuh keberuntungan) , hari-hari yang penuh harta karun, penuh dengan hal-hal yang berharga, dan hari-hari dimana pintu-pintu lautan rahmat Allah terbuka lebar. Dan Tuhan kita, sedang menunggu kita…, agar kita memohonkan lebih… dan lebih banyak lagi rahmat dan kekuatan-Nya, serta lebih… dan lebih banyak lagi pertolongan Ilahi untuk diri kita.
Kalian harus meminta, khususnya selama 1/3 bagian terakhir bulan suci Ramadhan, dimana terdapat sebuah malam yang menjadi malam yang penuh dengan kekuatan, “Laylat al Qadr” (malam itu dperingati setahun sekali dengan ibadah sepanjang malam) – lebih khusus kita harus “mencari” malam itu. Untuk mencari “perwujudan” itu, dimalam
suci itu, dan itulah tujuan selama kehidupan kita, dan bagi orang yang diijinkan untuk mendapatkan malam itu…, Allah Sang Maha Perkasa menjadikannya ada didalam perlindungan ke-Ilahiyahan- Nya.

Seseorang yang menemukan “malam yang penuh kekuatan” itu akan dianugrahi Tuhannya lautan rahmat yang tiada bertepi, dan kebaikan yang juga tiada batas, dan dia terlindung. Jika para Nabi adalah orang-orang yang tidak berdosa (menurut tradisi Islam, para Nabi terbebas dari sifat buruk, dan tidak mempunyai dosa besar), maka orang yang menemukan malam itu akan mempunyai sifat sebagai orang yang terlindungi. Dan bagi orang yang terlindungi oleh perlindungan Ilahi, adalah tidak mungkin bagi syaitan untuk datang dan mengeluarkannya dari perlindungan itu. Kita harus mencoba, tapi kita adalah manusia yang memiliki iman lemah untuk mampu menemukan malam itu, tapi kita bermohon kepada Allah Swt, untuk menganugrahi kita barakah malam itu, itulah sebuah anugrah, dan barakah itu akan memberi perlindungan kepada kita, selamanya.