Pandangan Islam tentang HomoSex

Dalam Islam, homoseksual disebut liwatg atau amal qaumil lutin. Istilah terakhir ini berarti perbuatan kaum luth karena menurut riwayat perbuatan ini dilakukan pertama kali oleh kaum nabi luth. Sementara kata lesbian berasal dari kata esbos sebuah pulau di luar aegea, yunani tua tempat seorang wanita bernama sappho hidup. Sappo adalah tokoh mitos yunani kuno yang menperjuangkan hak-hak perempuan. Sappho jatuh cinta kepada beberapa pengikutnya dan menulis puisi-puisi cinta untuk mereka. menurut sappho, kecantikan wanita tidak bisa dipisah dari aspek seksualnya. oleh karena itu kepuasan seksual juga mungkin diperoleh dari sesama wanita. sejak itu namanya dikaitan dengan lesbinisme.

Tidak perlu diragukan lagi perilaku seks yang menyimpang seperti homoseksual ini sangat dilaknat Allah. Al Qur’an menyebut perbuatan ini sebagai perbuatan maksiat yang melampaui batas (surat Al Ar’af 80-84). Allah meciptakan laki-laki dan perempuan, berpasang-pasangan, adalah supaya mereka bisa berinteraksi secara seksual dengan lawan jenisnya (heteroseksual). Agar mereka bisa meciptakan sebuah keluarga yang bahagia, normal, sehat dan berketurunan. Laki-laki diciptakan Allah untuk perempuan dan begitu pula sebaliknya. Perbuatan homoseksual jelas hanya untuk mencari kepuasan seksual semata. Kaum gay dan lesbi yang hidup dalam gemilang homoseksualitas tidak akan mengenal namanya anak, keluarga, ayah dan ibu dalam arti sebenarnya.

Nabi Muhammad SAW melarang kita menampakkan aurat kepada sesama jenis, tentu ada hikmahnya. Ada batasan aurat yang boleh dilihat oleh kaum sejenis kita. Ada saatnya kita tidak boleh masuk ke kamar teman satu kos kita, walaupun dia sejenis kita. Kita juga dilarang keras mandi bareng dan tidur berdekatan dengan teman sejenisnya. Hikmah dari semua larangan itu adalah bahwa setan bisa saja membisikkan yang tidak-tidak ke telinga kits ketika kita hanya berduaan saja dengan teman sejenis kita. Perlanggaran terhadap norma-norma luhur ini, akan menjadi peluang bagi timbulnya orientasi seksual yang salah. Godaan setan akan datang darimana saja.

Jika budaya sesat homoseksual ini kian berkembang, bukan tidak mungkin azab yang telah diturunkan allagh pada kaum luth ini, menurut kitab perjanjian lama, tinggal sebuah kota bernama sodom, itu mungkin sebabnya praktek homoseksual ini disebut sodomi. Kata sodom semula berada di tepi laut mati (danau luth) yang terbentang memanjang diantara israel-yordania. Dengan sebuah gempa vulkanis yang diikuti letusan lava, kota tersebut Allah runtuhkan, lalu jungkir-balikkan masuk laut mati. Allah kisahkan dalam al qu’ran:”maka tatkala datang adzab kami, kami jadikan negeri kaum luth itu (terjungkir-balik sehingga) yang diatas ke bawah dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (surat Huud ayat 82)

Sejak pembangkangan kamu homoseksual di kota stinewell, new york tahun 1969, dan bersamaan dengan gelombang pembangkangan kaum lesbi, homoseksual menjadi gerakan yang semakin nyata. Mereka tidak takut-takut lagi, tidak bersembunyi lagi. Keberanian mereka menperlihatkan identitas juga dibarengi dengan observasi dan penelitian ilmiah yang belakangan mereka pakai untuk membela “kelainan” mereka. Kaum homo memandang homoseksual sebagai gejala pikologi wajar. Menurut pandangan mereka dua orang lelaki atau dua orang wanita yang sama secara biologis. Bisa saja menemukan karakter yang berbeda di dalam diri mereka dan akhirnya merasa cocok satu sama lain. Yang satu menjadi sisi maskulin dan yang lain berperan sebagai sisi feminin.

Bahkan pada tahun 1973, american psychiatric association mengeluarkan pernyataan bahwa homoseksual bukan lagi mental disorder tapi sudah masuk klasifikasi psychiatryc disorder. Dengan begitu, homoseksual tidak lagi dianggap sebagai penyakit mental atau kerusakan moral, tapi merupakan satu gejala psikologis baru yang muncul sebagai pilihan individual. Mereka menganggap bahwa serangan terhadap kaum homoseksual adalah pelecehan terhadap hak asasi manusia.

Penyataan inilah kemudian yang membuat penyimpangan ini lama-lama diterima oleh masyarakat terutama masyarakat barat. Mereka cenderung menganggap masalah homoseksual ini sebagai bagian dari keberagaman dan tak ada yang boleh mencegahnya. Nnamun Prof. DR. H dadang Hawari membantah pernyataan tersebut, “masalah ini masih dalam perdebatan para pakar,” katanya. “orang barat cenderung mencari-cari pembenaran terhadap ini karena tuntutan gaya hidup bebas mereka. Menurut saya, homoseksual muncul dari polah hidup yang tidak benar. Kalau dikatakan sikap homoseks ini timbul karena psychiatric disorder,” maka dari dulu pasti sudah bisa diterima masyarakat. Mereka (orang barat) Cuma ingin memuaskan keinginan birahi mereka dengan variasi-varisi baru. Jadi bukan masalah psikologis, tapi masalah mentalitas yang memang nggak benar.” Lanjut beliau. Nah udah jelaskan bahwa homoseksual itu memang sebuah penyakit.

Penelitian bidang biologi tentang homoseksualitas selama ini cenderung tidak obyektif dan berat sebelah. Sebagian pakar menyebutkan bahwa homoseksual itu akibat faktor keturunan (gay are born not made). Simon levay seorang pakar bidang biologi yang juga seorang gay menyelidiki otak orang gay dan menemukan fakta bahwa salah satu bagian otak-otak orang gay lebih mirip perempuan daripada laki-laki “normal” bila penelitian-penelitian ini benar, apakah berarti pelaku homo dan lesbi bisa dibenarkan.

Tentu saja tidak, bila teori di atas benar, maka bisa saja para pemakai narkoba juga ikut-ikutan membela diri dengan mengatakan bahwa hobi mereka nge-drug juga akibat pengaruh dan kromosom mereka yang tidak normal. Dan bila itu terjadi maka semua kebejatan dan penyimpangan perilaku yang dilakukan manusia bisa dibenarkan dengan teori biologi. Mereka lupa mempertimbangkan orientas seksual itu merupakan pilihan dalam keadaan sadar dan itu terdorong oleh hawa nafsu bukan faktor kromosom dan otak.

Hal ini juga dijelaskan oleh Prof. Dr. Dr dadang hawari menurut beliau tidak ada pengaruh parental gen terhadap homoseksualitas. Yang ada adalah parental example dengan sikap hidup homo. Pasangan lesbi dan homo yang membentuk keluarga lalu mengadopsi anak cenderung akan menpengaruhi gaya hidup anaknya dengan gaya hidup homoseksual. Ya, tentu saja, air cucuran atap jatuhnya nggak jauh kemana-mana. Jadi jelas sudah bahwa hidup gay dan lesbi bukan karena faktor psikologis atau bawaan biologis. Gaya hidup bejat itu timbul karena faktor budaya yang memang menjadikan nafsu menjadi Tuhan. Jadi, harus disingkirkan jauh-jauh dari kehidupan kita.
(sumber: dinukil dari majalah annida no 23/XII/1-15 september 2003)