Peranan Hypnosis Dalam Motivasi dan Empowerment

Akhir-akhir ini banyak sekali pelatihan motivasi mulai dari Anthony Robbins yang terkenal dengan Fire Walking nya, Get Your AlphaPower yang diselenggarakan oleh Mind Technology, pelatihan NLP (Neuro Language Program), Ari Ginanjar dengan ESQ nya, dari yang menggunakan pola pendekatan moderen sampai dengan spiritual religius, di mana semua pelatihan tersebut bertujuan untuk membangkitkan motivasi dan pemberdayaan diri manusia.

Dan apa yang rata-rata diperoleh dari pelatihan tersebut? Meningkatnya rasa percaya diri, kita menjadi orang yang selalu berpikir positif, berpikir lebih bijak dalam menghadapi “kenyataan”. Dapat menstimulasi diri sendiri untuk lebih ‘kuat’ dalam menghadapi situasi (apapun) yang mungkin tidak menguntungkan dengan cara yang lebih arif. Selain itu juga, mampu memberdayakan diri sendiri untuk menghadapi masalah penyakit medis dan non medis. Tujuan umum dalam pembangkitkan motivasi dan empowerment (pemberdayaan diri) adalah agar terjadi suatu keselarasan atau kesimbangan pikiran, jiwa maupun mental dalam diri kita sehingga kita mampu mengimbangi situasi dan kondisi lingkungan sehari-hari yang mungkin dapat mempengaruhi perilaku kita. ‘Selaras’, sehingga mental kita lebih kuat dan bijak dalam menyikapi masalah kehidupan sehari-hari. Kita dapat lebih tenang dalam berpikir maupun bertindak. Selalu berpikir positif. Meskipun dalam situasi lingkungan yang tidak mendukung, perilaku dan aktivitas kita tidak terganggu.

Mengenai motivasi itu sendiri secara bebas mungkin dapat dikatakan sebagai suatu ‘iming-iming’ atau sasaran yang membuat kita dengan segenap pikiran, jiwa dan raga kita akan berusaha apapun untuk medapatkan ‘iming-iming’ tersebut. Setiap orang pasti mempunyai motivasi, positif maupun negatif, kecuali dia memiliki problem kejiwaan (sakit jiwa). yang dimaksud dengan ‘positif’ adalah sesuai dengan kaidah, tatanan, etika yang berlaku umum saat itu, dan sesuai dengan ajaran-ajaran yang mengajarkan kebajikan seperti agama, budi pekerti dsb. Sedangkan yang dimaksud dengan ‘negatif’ adalah kebalikannya atau bertentangan dengan hal di atas.

Dalam suatu masalah perilaku atau mental (diluar aspek etika, keagamaan, budi pekerti dll.), asalkan dia mengerti motivasi sebenarnya dan dia melakukan tindakan sesuai motivasinya, maka orang ini tidak akan bermasalah secara kejiwaan ataupun mental. Setiap masalah motivasi selalu dikaitkan dengan perilaku atau tindakan. Ada empat kategori untuk hal itu:

Pertama:

Keadaan yang ideal. Kita mengetahui motivasi kita yang sebenarnya dan sehingga tindakan/ perilaku kita sesuai dengan motivasi kita.
(“Saya tahu apa yang saya mau”)

Contoh:

Seorang pegawai yang akhir-akhir ini selalu bekerja lembur karena termotivasi karena istrinya akan melahirkan anak pertama sehingga membutuhkan biaya persalinan. Si pegawai tidak bermasalah meskipun dia harus bekerja lembur, karena terbayang di pikirannya suatu kebahagiaan untuk memiliki anak pertama. Dia akan bekerja sukarela dan dengan senang hati. Orang-orang di sekelilingnya pun tidak ada masalah dengan dirinya.

Seorang mafioso melakukan pembunuhan dan perampokan di mana-mana, karena termotivasi untuk mendapatkan uang yang banyak dan kekuasaan. Sang mafioso juga tidak ada masalah dengan mental atau perilakunya, karena meskipun dia melakukan pembunuhan, motivasinya adalah berkuasa dengan cara seperti ini. Pada dasarnya dia memang menyukai hal itu. Jelas, dia tidak diterima oleh lingkungan, tetapi untuk lingkungan kecil atau kalangan bandit mungkin dia diterima.

Kedua:

Kita mengetahui motivasi kita yang sebenarnya namun oleh karena berbagai macam hal, tindakan/ perilaku kita tidak sesuai dengan motivasi kita, atau tindakan/ perilaku kita tidak sesuai dengan tatanan yang berlaku atau salah. (dalam bahasa jawa dikatakan ‘nyeleneh’).
(“Saya tahu tetapi sulit”)

Contoh:

Seorang remaja ingin bebas dari masalah tekanan dari orang tuanya maka dia melarikan diri ke narkoba agar masalahnya selesai. Motivasinya benar bahwa dia ingin bebas, namun tindakannya selah sehingga menyebabkan suatu permasalahan.

Seorang mencuri uang karena ingin membahagiakan istrinya. Sudah benar bahwa motivasinya ingin membahagiakan istri, namun tindakannya tidak benar. Orang terpaksa bekerja di tempat yang menurutnya tidak sesuai dengan hati nuraninya Dia terpaksa melakukannya karena motivasi ekonomi. Seseorang ingin menurunkan berat badan, tetapi tetap saja makan berlebihan.

Ketiga:

Kita tidak mengetahui motivasi kita yang sebenarnya. Yang kita pikirkan hanya proses tindakannya saja. Yang penting tindakannya tidak negatif. (“Saya dapat bertindak apa saja asalkan benar dan tidak negatif meskipun saya tidak tahu saya mau apa, pokoknya kerjakan saja” – untung-untungan)

Untuk kategori ini mungkin tidak akan menjadi masalah kalau dia merasa bahwa apapun yang terjadi memang demikianlah adanya (pasrah). Syukur-syukur kalau berhasil, tetapi kalau gagal memang demikian adanya terima saja.

Pada orang-orang tertentu mungkin tidak dapat seperti ini. Meskipun dimulut mengatakan bahwa kalau gagal memang demikian adanya, tetapi dalam hatinya bergejolak luar biasa.

Seperti anak ayam kehilangan induknya, dia akan menciap-ciap terus karena tidak tahu harus apa. Kategori ini berpotensi untuk mengalami masalah perilaku yang muncul (biasanya terjadi belakangan) bila si pelaku mengalami guncangan emosional.

Contoh:

Seorang bersedia bekerja apapun meskipun dia harus kerja siang malam tanpa henti. Jika ditanyakan mengapa dia bekerja seperti itu, dia akan menjawab “Ya …, entahlah, senang saja”. Dia merasa tidak ada masalah dengan tindakannya karena hanya berorientasi pada proses tindakannya saja. Sekarang bayangkan, jika suatu saat terjadi suatu pemutusan hubungan kerja di tempat kerjanya. Jika dia pasrah terhadap keadaan, maka perubahan apapun dalam lingkungan kerjanya tidak akan mempengaruhi sikap dan perilakunya dan dia mungkin akan mencari pekerjaan lain.

Ternyata, tidak semua orang dapat pasrah dengan keadaan itu. Dia akan ‘sakit’, dimana perilakunya akan terganggu seperti menjadi stress, depresi atau masalah yang lainnya. Dia akan menjadi orang ‘pesakitan’. Setiap waktu hanya mengeluh, mengeluh, dan mengeluh.

Bayangkan kalau dia tidak kuat menghadapi hal tersebut (ini kasus yang sering terjadi), secara penampilan mungkin tidak terlihat, tetapi mulai saat itu dia mulai terjangkit penyakit medis seperti diabetes atau darah tinggi dan sebagainya.

Keempat:

Kita tidak mengetahui motivasi kita sebenarnya sehingga tindakan/ perilaku kita pasti salah karena tidak sesuai dengan motivasi kita sebenarnya. Kalaupun terlihat tindakannya benar, sebenarnya hanya kamuflase saja karena belum tentu kita merasa benar-benar puas. (“Saya tidak tahu apa yang saya mau” – terlalu berandai-andai, berasumsi, dan ‘untung-untungan’) Umumnya kategori ini juga berpotensi menimbulkan masalah baru sehingga membuat permasalahan yang tadinya sederhana menjadi lebih kompleks dan rumit.

Contoh:

Seseorang istri mengurangi makannya secara berlebihan supaya kurus karena dia beranggapan bahwa kalau makan banyak berarti tidak sehat. Setelah dilakukan terapi, ternyata motivasinya untuk kurus karena ingin menjadi pusat perhatian dengan bentuk badan yang baru. Secara pribadi, orang dalam kategori pertama, baik secara jiwa, mental dan perilaku, sama sekali tidaklah bermasalah. Tidak peduli motivasinya positif atau negatif. Perbedaannya, jika dia motivasinya positif, dia akan diterima lingkungan. Sedangkan jika motivasinya negatif mungkin hanya diterima pada kalangan atau lingkungan tertentu saja tetapi dia tetap nyaman.

Demikian pula dalam hal medis. Seseorang yang secara medis terkena diabetes, dia tahu bahwa hidup ini harus dijalani apa adanya dan sadar bahwa manusia memang banyak cobaan. yang penting bagi dia adalah hidup berbahagia. Oleh karena dia tahu motivasinya ingin bahagia, dia tidak terlalu memikirkan diabetesnya. Dia berobat seperti biasa, dan perilakunya pun tidak terpengaruh. Dia tetap seperti biasanya, aktivitasnya normal-normal saja tanpa ada rasa stress atau depresi.

Pada kategori kedua, ketiga dan keempat inilah biasanya terjadi suatu masalah mental dan perilaku seperti contoh-contoh di atas. Sangat berbeda jika orang dalam contoh kasus di atas, seperti pada kategori tiga, dia mengetahui motivasi dia sebenarnya. Tentunya dia tidak perlu menjadi orang “pesakitan” yang tiap hari selalu mengeluh. Dia akan segera berpikir ke depan dan positif untuk berusaha yang lainnya dimana motivasinya adalah untuk hidup bahagia. Lihat seperti contoh kasus yang muncul sejak tahun 1998, banyak sekali orang yang terkena PHK malahan dapat menjadi pengusaha yang sukses karena mempunyai motivasi positif yang jelas dan mampu memberdayakannya.

Apa yang mempengaruhi motivasi sehingga berakibat pada perilaku kita?

Situasi dan kondisi kota besar dan kemajuan zaman saat ini telah banyak mempengaruhi suasana dan kondisi lingkungan sekitar kita. Secara langsung atau tidak, baik ataupun buruk, hal ini mempengaruhi mental dan perilaku kita. Akibatnya, mungkin saja secara tidak sadar motivasi jadi berubah, atau kita tidak sempat/ tidak mampu untuk memberdayakan motivasi kita yang sebenarnya. Sekarang, tergantung pada sikap kita sendiri, mampukah kita mengatasi/ mengimbanginya tanpa adanya perubahan mental dan perilaku karena kita tetap berpendirian teguh pada motivasi kita sebenarnya? atau “tune in” dalam lingkungan itu sehingga perilaku dan sikap kita tidak terganggu dalam menghadapinya meskipun kita tetap mengacu pada motivasi kita yang sebenarnya? atau kita dapat memandang hal itu dengan sikap bijak? atau kita hanyut dengan kondisi tersebut karena sudah tidak peduli dengan motivasi awal kita? atau kita tidak mampu mengimbangi dan selaras sehingga kita frustasi terhadap keadaan ini karena kita terlalu bersikukuh dengan motivasi kita sebenarnya?.

Banyak masalah-masalah mental dan perilaku yang muncul karena adanya pengaruh langsung maupun tidak langsung dari lingkungan sekeliling kita. Seseorang menjadi stress karena merasa tidak tepat berada di lingkungan kerjanya atau lingkungan tempat tinggalnya, tetapi dia tidak dapat melepaskan diri dari pekerjaannya karena adanya tuntutan ekonomi sehingga mau tidak mau dia harus berada di sana.

Mungkin masalah-masalah tersebut tidak terjadi jika kondisi kita berada dalam suatu lingkungan yang amat kondusif, sangat aman, tentram dan nyaman seperti pada suatu pedesaan yang tenang, aman, tentram seperti di cerita-cerita dongeng. Tetapi apakah kehidupan di era globalisasi, terutama di kota besar, dapat seperti itu? Manusia dituntut untuk saling bersaing bagaimanapun bentuk dan caranya, sehingga rasa cemas, rasa stress, atau depresi dapat muncul kapan saja.

Lalu harus bagaimana? Apa yang terjadi bila tidak mampu untuk ‘selaras’ dengan lingkungan ? Dan bagaimana caranya agar ‘selaras’?

Motivasi dan pemberdayaan diri sendiri menjadi modal utama. Dengan patokan ini kita berupaya agar kita tidak merasa tertekan, tidak merasa stress, atau tidak frustasi dalam menghadapi situasi lingkungan yang seperti itu, yang penuh dengan kompetisi (sehat maupun tidak sehat), sesuai atau tidak sesuai dengan hati nurani.

Kalau tidak mampu, maka kita menjadi “sakit” yang disebabkan oleh karena lingkungan itu sendiri.

Dan mungkin kita akan berkata ‘lingkungan kita sangat ganas’. Tetapi dengan kemampuan kita selaras dengan lingkungan membuat kita seolah-olah merasa sudah ‘menjinakkan’ lingkungan tersebut sehingga mental dan perilaku kita tidak ada masalah.

Dalam hal ini, motivasi dan pemberdayaan diri ini menjadi penting dalam proses ‘pencegahan dan penyembuhan’ suatu “penyakit” perilaku dan mental. Dengan memiliki motivasi yang jelas (bagi diri sendiri) membuat kita menjadi bijak.

Dengan kepala dingin kita dapat menyelesaikan suatu masalah dengan lebih baik karena kita dapat memilah antara mana yang efeknya akan merugikan dan menguntungkan diri kita, memilah mana yang negatif dan mana yang positif, baik atau buruk dan seterusnya sehingga kita dapat menentukan tindakan apa yang sesuai dengan diri dan motivasi kita. Selain “penyakit perilaku dan mental”, motivasi dan empowerment juga menjadi penting dalam hal proses penyembuhan suatu penyakit medis. Seperti telah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya mengenai “Hypnotherapy sebagai alat bantu proses penyembuhan”, proses penyembuhan akan berjalan lancar jika motivasi untuk sembuh juga besar. Dengan kejelasan suatu motivasi, “Saya ingin sembuh dari penyakit ini karena saya termotivasi ingin membuat keluarga saya tetap bahagia”, maka secara otomatis kita akan melakukan pemberdayaan diri sendiri untuk sembuh dan mencapai motivasi yang diharapkan.
Pertanyaan selanjutnya, “Bagaimana motivasi dan empowerment itu dibangkitkan lalu dipertahankan?” Beberapa keluhan yang sering muncul adalah berasal dari kategori kedua, ketiga dan keempat diatas.

“Kepala saya pening terus. Saya ingin sembuh dan ingin aktivitas saya tidak terganggu oleh hal ini, saya sudah mencobanya tetapi sulit sekali”, “Saya ingin bebas dari masalah yang mengganggu aktivitas saya, namun sulit sekali”. Dan semakin sulit untuk mengatasinya, biasanya orang tersebut semakin frustasi, sehingga menimbulkan masalah yang lebih kompleks, bahkan bisa merambat ke arah penyakit medis seperti darah tinggi, asam urat, dan sebagainya.

Pada kasus lainnya, seseorang ingin menurunkan berat badan tetapi sulit sekali karena masih senang makan banyak. Umumnya dia sendiri tidak mengetahui apa motivasi sebenarnya (ini kasus yang sering muncul) yang membuat dia ingin menurunkan berat badan. Motivasinya telah tertutupi oleh keinginan makan yang banyak.

Memang, sangat mudah mengatakannya di mulut ‘”Saya ingin bebas dari masalah ini”, namun tindakannya tidak mencerminkan keinginan tersebut. Mencari pelarian dalam rangka membebaskan diri dari masalah tersebut mungkin dapat dilakukan, seperti makan yang berlebihan, narkoba, minuman keras, dan lain-lainnya. Tetapi perlu diperhatikan, pelarian tersebut belum tentu membebaskan dia dari masalah utamanya sehingga di lain waktu “penyakit” itu kambuh lagi. Selain itu juga berbahaya karena ditengarai kemungkinan timbulnya masalah baru yang menyebabkan permasalahan yang sebenarnya sederhana menjadi lebih kompleks. Hal yang sering terjadi, dimulut bilang A di hati ternyata Z.

Berbeda dengan seseorang yang sangat jelas dan paham motivasi dirinya. Secara otomatis dia akan melakukan suatu pemberdayaan sedemikian rupa sehingga mencapai apa yang diinginkannya.

Seorang yang ingin menurunkan berat badan karena motivasinya ingin menyenangkan pasangannya. Secara otomatis, dia akan bertindak atau berperilaku apapun yang membuat pasangannya senang termasuk untuk menurunkan berat badannya. Atau, seperti contoh kasus dalam kategori tiga di atas, jika orang tersebut mengerti bahwa misalkan motivasinya adalah ingin membahagiakan keluarganya, tentunya dia akan memberdayakan dirinya untuk segera mencari pekerjaan lainnya. Dapat kita lihat berapa contoh, banyak orang-orang yang malahan sukses setelah masa krisis tahun 1998.
Atau dalam hal medis, sesesorang atlit ingin segera sembuh dari penyakitnya saat ini, karena termotivasi bahwa bila dia sembuh akan dapat bertanding dalam suatu kejuaraan yang sudah lama dia idam-idamkan. Si atlet tentunya akan melakukan pemberdayaan sedemikian rupa, seperti melakukan latihan ringan yang dapat membantu mengobati penyakitnya, mengikuti saran dokternya dan sebagainya. Bayangkan kalau dia tidak termotivasi, mungkin si atlet akan malas melakukan hal itu semua.

Dalam hal sehari-hari, seorang anak rajin ke sekolah karena termotivasi untuk bertemu pacarnya di sekolah bukan untuk belajar. Dan masih banyak lagi.
Sebenarnya, membangkitan motivasi dan memberdayakannya dapat dilakukan oleh kita sendiri kalau kita dapat berpikir jernih, pikiran kita sedang tenang maupun santai. Namun apakah kondisi lingkungan kita dapat membuat kita berpikir jernih dan tenang kalau setiap hari kita selalu diburu-buru oleh pekerjaan dan aktivitas kita? Tidak semua orang dapat melakukannya.

Dalam suatu proses hypnotherapy oleh seorang Hypnotherapist profesional, melalui teknik dan metoda tertentu, seorang klien diberikan terapi agar dia benar-benar ‘clear’ dengan motivasi dirinya yang sebenarnya. Dengan kejelasan motivasi ini, maka klien, tanpa perasaan kritis dan analitis dan tanpa perlu ragu, akan melakukan pemberdayaan diri dalam rangka mencapai motivasinya. Tingginya motivasi untuk menyelesaikan ‘penyakit’ atau masalah yang dimilikinya, membuat klien melakukan pemberdayaan sedemikian rupa sehingga proses ‘penyembuhan’ atau pemecahan masalahnya dapat berjalan lancar.

Selain memperjelas motivasi, seorang hypnotherapist dapat juga memberikan sudut pandang baru agar klien yang tadinya memiliki motivasi negatif bergeser sehingga memiliki motivasi baru yang positif dan memberikan pandangan mengenai nilai-nilai baru.
Seorang Hypnotherapist bukan seorang cenayang, ataupun peramal atau orang yang memiliki kesaktian yang dapat membangkitkan suatu motivasi dalam sekejap seperti tukang sulap dengan hanya membalikkan telapak tangan. Tidak semua hal dapat dilakukan seperti itu. Ingat, jiwa manusia sangat unik. Seperti telah disebutkan, tiap orang dapat saja bereaksi berbeda dalam suatu permasalahan yang persis sama. Dalam suatu pemberdayaan untuk mencapai suatu motivasipun, orang masih dapat berubah.

Bagaimana membangkitkan motivasi seorang klien sehingga dia melakukan pemberdayaan, merupakan tantangan tersendiri bagi seorang hypnotherapist (Proses ini disebut dengan proses ‘hypno-therapeutic’) Dalam hal penyakit medis, seperti halnya yang telah dilakukan oleh para pakar hypnotherapist, proses therapeutic juga dapat mengurangi penyakit medis seorang klien secara berangsur. Klien dapat mengatasi masalah mentalnya dengan pikiran yang lebih jernih dan lebih positif. Sebenarnya, metoda hypnotherapy seperti ini sudah dilakukan oleh pemuka-pemuka agama (seorang kyai atau ustad, seorang pendeta atau pastor, seorang bhiksu, maupun seorang konselor, dan sebagainya) dalam kegiatan-kegiatan mereka membangun nilai-nilai pekerti yang luhur. Tujuannya sama, meskipun pendekatan tekniknya berbeda, dimana mereka menggunakan penekanan religius spiritual, membimbing klien agar klien menyadari motivasi dirinya yang sebenarnya dan melakukan pemberdayaan sesuai motivasinya sesuai dengan nilai dasar yang dimiliki.

Seorang hypnotherapist profesional, meskipun dia bukan seorang konselor, bukan seorang psikiater, bukan seorang psikolog, bukan seorang dokter, ataupun bukan seorang pemuka agama, dia dapat melakukan hal serupa, karena biasanya hypnotherapist lebih memperhatikan proses therapy daripada ‘content’. Perbedaannya bahwa dia tidak menanamkan nilai-nilai dasar baru kecuali ahlinya (dokter, psikolog, psikiater, konselor, pemukia agama). Tetapi, seperti disebutkan pada tulisan sebelumnya, AKAN LEBIH BAIK jika seorang hypnotherapist memahami hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan, spritual dan religius. Tentunya hal ini dapat dipelajari atau dapat juga melalui pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain. Pengalaman diri sendiri biasanya lebih efektif daripada hanya belajar karena adanya unsur rasa dan sentuhan emosional. Bagaimana dia dapat mengetahui masalah keluarga secara mendalam kalau dia sendiri belum pernah berkeluarga?
Demikian pula sebaliknya, apabila seorang pemuka agama, konselor, dokter, psikiater maupun psikolog dilengkapi dengan teknik-teknik hypnotherapy, tentunya akan lebih baik dan lebih efektif lagi dalam menjalankan kegiatannya. Mereka sudah memiliki dasar pengetahuan mengenai nilai-nilai sehingga tinggal cara menanamkan nilai-nilai tadi kepada kliennya dengan lebih efektif. Namun, TIDAK PERLU KHAWATIR, meskipun sebagai seorang hypnotherapist anda bukan seorang dokter, psikiater, psikolog, konselor, maupun seorang pemuka agama, anda tetap dapat melakukannya. Setiap klien mempunyai nilai dasar, karakter dan sistem kepercayaan yang berbeda, dan kita bukanlah manusia super yang mampu menyelesaikan segalanya. Oleh karena itu seorang hypnotherapist dapat bekerjasama dengan mereka (psikiater, psikolog, dokter, konselor, pemuka agama, dll) untuk menyelesaikan suatu permasalahan klien. Demikian pula sebaliknya. Di luar negeri, seperti di Eropa dan Amerika, sudah merupakan suatu hal biasa bila seorang hypnotherapist saling memberikan rujukan atas suatu permasalahan klien dengan seorang psikolog, psikiater ataupun yang lainnya. Karena pada dasarnya suatu pengobatan belum tentu dapat ditangani hanya oleh satu orang, kecuali dia orang yang sangat hebat sekali.

Dari sini terlihat bahwa aplikasi hypnotherapy sangatlah luas dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari untuk membangkitkan motivasi dan memberdayakan diri. Tulisan ini hanya menjelaskan sebagian kecil peranan hypnotherapy. Masih banyak lagi fungsi yang lain dari hypnosis/hypnotherapy, seperti dalam aspek manajemen, komunikasi, pemasaran/ promosi, perusahaan, hukum, rumah tangga, dan lain-lain. Dengan melihat hal ini, apakah kita masih mempunyai pandangan bahwa hypnosis atau hypnotherapy adalah jelek, buruk atau berbahaya…..????