Rahasia Jalan Kematian

Setiap manusia sempurna dengan mudah dapat mengendalikan jalan hidup atau air hidupnya yang disebut tirta nirmaya (Bahasa Budha), ma’ul hayat atau sajaratul makrifat (Arab). Jumlahnya ada 3 dan 9 nirmaya yang tersebar merata diseluruh tubuh, 3 Diantaranya memiliki kemampuan mengetahui dengan teliti sesuatu yang diperlukan. 3 lainnya merupakan permulaan kodrat, sementara itu, dua sisinya merupakan kodrat yang berupa daya kekuatan untuk hidup, yang jika ditutup akan memusnahkan budi dan daya kehidupan.

Tiga daya kekuatan tirta nirmaya itu meliputi : 1 Penglihatan, 2 Pendengaran dan 3. Penciuman, ketiganya adalah termasuk bagian dari Panca Indra Manusia. Jika ke-3nya disatukan dan ditutup kemudian digulung jadi satu, maka terjadilah sukmantaya yang berwarna hijau, biru dan kuning indah bagaikan embun ditembus sinar matahari. Dan inilah sebenarnya rahasia mengenai asal muasal manusia. Disinilah terdapat kesamaan semua manusia, baik atau jahat, bajingan atau auliya maupun seorang raja, Kedua kutub itu bagaikan cincin yang berbentuk lingkaran. Kodrat, permulaan, pertengahan dan akhir hidup manusia.

Banyak orang yang menghadapi sakratul maut (kematian), Kodrat, angan-angan dan keinginanya belum musnah. Sudah diambang kematian masih saja keinginan dan duniawi masih ada dalam pikiran manusia, akibatnya, gerak napas pada saat maut datang tidak teratur, diantaranya ada orang yang saat mati matanya membelalak seolah tidak rela untuk meninggalkan kenikmatan dunia yang dipinjamkan oleh Allah kepadanya.

Sebaiknya ketika ajal seseorang datang, tidak sedikitpun keinginannya tertinggal, demikian pulalah qudratullah ketika malaikan izrail mencabut nyawa.

Kematian manusia bukan jenis kematian pasif, atau kematian negative dalam arti kematian yang bersifat memusnahkan. Kematian hanya sebagai gerbang menuju kemanunggalan, dan itu harus memasuki alam nur Muhammad. Bentuk konkretnya, dalam pengalaman kematian itu, orang tersebut tidaklah kehilangan muasal hidup. Oleh karenya keadaan kematiannya bukanlah suatu kehinaan sebagaimana kematian makhluk selain manusia. Disinilah arti penting syafa’at sang utusan (Rasullullah) dalam bentuk Nur Muhammad atau hakikat Muahammad.

Nur Muhammad adalah roh kesadaran bagi tiap pribadi dalam menuju kemanunggalannya, sehingga dengan nur itulah maka pengalaman kematian oleh manusia, bukan sejenis kematian pasif, atau kematian yang negative, dalam arti kematian dalam bentuk kemusnahan sebagaimana yang terjadi terhadap hewan.

Kematian itu adalah sesuatu aktifitas yang aktif, sebab ia hanyalah pintu menuju kearah manunggal. Nampah sekali bahwa dalam kematian seseorang itu tetap tidak akan kehilangan kesadaran kemanunggalannya. Dengan Hakikat Muhammadnya ia tetap sadar dalam kematian itu, bahwa ia sedang menempuh salah satu lorong manunggal.

Sembahyang atau Shalat 5 waktu

Shalat 5 waktu dalam sehari itu hanyalah bentuk tata karma, dan bukan merupakan shalat yang sesungguhnya, yakni shlat sebagai wahana memasrahkan diri secara total kepada Allah dalam kemanunggalan. Oleh karena itu dalam tingkatan aplikatif, pelaksanaan hanya merupakan kehendak masing-masing pribadi. Demikian pula, masalah salah dan abenarnya pelaksanaan shalat 5 waktu dan ibadah sejenisnya, bukanlah esensi dari agama.

Sehingga merupakan hal yang tidak begitu penting untuk menjadi perhatian manusia. Namanya juga sebatas tata karma, yang tentu saja masing-masing orang memiliki sudut pandang sendiri-sendiri.

Umumnya orang dalam melaksanakan shalat , sebenarnya akal budinya mencuri, yakni mencuri esensi shalat yaitu keheningan dan kejernihan budi, yang melahirkan akhlaq al-karimah. Sifat khusyu’nya shalat sebenarnya adalah letak aplikasi pesan shalat dalam kehidupan keseharian.

Sehingga dalam Al-Qur’an, orang yang melaksanakan shalat namun tetap memiliki sifat riya’ dan enggan mewujudkan pesan kemanusiaan disebut mengalami celaka, dan mendapatkan siksa neraka Wail, sebab ia melupakan makna dan tujuan shalat (Qs. Al-Ma’un/107;4-7). Sedangkan dalam Qs. Al-Mukminun/23;1-11 disebutkan bahwa orang yang mendapat keuntungan adalah orang yang shalatnya khusyu yaitu shalat yang disertai oleh akhlak yang baik yaitu :

(1).Menghindari diri dari hal-hal yang sia-sia dan tidak berguna, juga tidak menyia-nyiakan waktu serta tempat dan setiap kesempatan.

(2). Menunaikan Zakar dan sejenisnya,

(3). Menjaga kehormatan diri dari tindakan tidak terpuji dimata orang lain.

(4). Menetyapi janji dan amanat serta sumpah,

(5). Menjaga makna dan esensi shalat dalam kehidupannya. Mereka itulah yang disebut akan menempati kehidupan abadi atau kemanunggalan dengan Tuhan.

Namun kalau kita lihat pada kehidupan Nyata sehari-hari, Orang muslim yang melaksanakan shalat dipaksa untuk berdiam, konsentrasi ketika melaksanakannya. Padahal pesan esensinya adalah agar pikiran dipelihara dan digembalakan agar tidak liar, sebab pikiran yang liar pasti menggagalkan pesan shlat khusyu’ tersebut. Khusyu itu adalah buah dari shalat. Sedangkan Shalat hakikatnya adalah Eksprimen manunggalnya hamba dengan Gusti. Manunggal itu adalah al-Islam, penyerahan diri. Sehingga doktrin manunggal bukanlah masalah paham qadariyah atau jabariyah, fana’ atau ittihad.

Namun itu adalah inti dari kehidupan, Khusyu’ bukanlah latihan konsentrasi, bukan pula meditasi. Konsentrasi dan meditasi hanyalah salah satu alat untuk latihan menggembalakan pikiran.

Shalat haruslah merupakan praktek nyata bagi kehidupan, yakni shalat sebagai bentuk ibadah sesuai dengan bentuk profesi kehidupannya. Orang yang melaksanakan profesinya secara benar, karena Allah, maka hakikatnya ia telah melaksanakan shlat sejati, shalat yang sebenarnya, atau shlat daim. Karsa dan cipta itulah shalat yang sesungguhnya. Itulah yang menjadi rangkaian antara iman, islam, dan ihksan.

Ihksan

Ikhsan berasal dari kondisi hati yang bersih, dan hati yang bersih adalah pangkal serta cermin selutuh eksistensi menusia di bumi. Ihksan melahirkan ketegasan sikap dan menentang ketundukan membabi buta kepada makhluk.

Syariat

Syariat yang selama ini diajarkan para wali atau ulama adalah “omong kosong belaka”, Syariat bukan hanya pengakuan dan pelaksanaan, namun harus berupa penyaksian atau kesaksian. Ini berarti dalam pelaksanaan syariat harus ada unsur pengalaman spiritual.