Sehelai Uban

Ketika mematut wajahku pada cermin pagi ini aku temukan sehelai uban pada rambutku. Aku perhatikan dalam-dalam, begitu jelasnya rambut yang mulai memutih tersebut mengalahkan ribuan rambut hitam disekitarnya. Syahdan menurut ilmu kesehatan uban terjadi karena faktor keturunan ataupun karena berkurangnya pigmen rambut sebagai akibat menuanya usia kita.

Memandang sehelai uban mampu menghilangkan pandangan kita terhadap rambut lainnya yang berwarna hitam itu seperti efek fokus pada kamera. Bagi para pecinta fotografi, menajamkan fokus bisa juga dilakukan dengan memburamkan yang lainnya (blur) dengan cara mengatur bukaan cahayanya pada kamera.

Memang sulit dipungkiri, untuk mengetahui wujud sering kita memainkan sekitarnya agar blur. Uban adalah bagian dari rambut yang bercokol di kepala kita, tapi bila kita mau fokus melihatnya maka kita harus berkonsentrasi, bahkan meniadakan penglihatan atas kepala kita. Sehingga kesadaran kita melulu pada sehelai uban.

Wujud kadang-kadang digambarkan sebagai sesuatu yang tidak tampak dalam dirinya sendiri, tetapi menampakkan segala sesuatu selainnya. Karena itu, wujud biasanya diibaratkan dengan cahaya yang tidak tampak dalam dirinya sendiri tetapi menampakkan pada hal-hal lainnya.

Kita bisa melihat sesuatu karena cahaya itu telah berbaur dengan kegelapan. Semakin kuat cahaya maka semakin sulit kita melihat sesuatu. Pernahkan anda melihat lampu mobil jarak jauh yang menyorot mata kita sehingga membuat mata kita buta untuk satu dua detik? Begitu pula, dengan wujud, sesungguhnya adalah segala sesuatu yang ada, yang tak lain adalah pantulan dari remang-remang dari wujud atau eksistensi yang hakiki.

Memperhatikan ubanku, aku berkeyakinan bahwa wujud adalah sesuatu yang tunggal, sementara yang rambut hitamku yang banyak adalah suatu obyek yang kita ketahui dan sudah ada dalam benak kita.

Memang untuk memahami dan menyaksikan wujud dalam ranah spiritual memerlukan pengalaman transenden karena setiap subjek akan menemukan wujud dalam tingkat berbeda. Wujud mutlak menemukan diriNya secara langsung. Tetapi untuk kita, setiap wujud menemukan dirinya sebagai bayangan dan refleksi dari pancaran Wujud Mutlak, dan merasakan kehadiranNya dalam suasana yang remang. Memang Dia itu ADA.

Memahami rambut uban dari tatanan spiritual sungguh sulit dipahami. Makanya untuk menghindari polemik lebih lanjut mendingan uban itu saya potong saja mumpung baru nongol satu, kalau nanti rambutku berubanan semua bisa gawat, karena kepalaku menjadi gundul, seperti hutan kita yang dijarah sehingga membuat kampung-kampung dibawahnya terkena musibah longsor atau banjir.