Seni dalam menjalani kehidupan SPIRITUAL

“Temui, kenali dan raih manfaat daripadanya”, slogan ini mungkin telah pernah kita dengar. Mereka yang belajar secara otodidak, akan amat akrab dengan slogan ini. Pembelajaran secara mandiri, menggunakan slogan serupa untuk memperoleh pemahaman.

* Temui; ini mesti kita lakukan secara aktif. Jelas bahwa kita tak dianjurkanuntuk menunggu dan menunggu namun bertindak secara aktif —‘menemui’.

* Kenali; untuk mengenali sesuatu, kita perlu mempersiapkan diri tentang deskripsinya. Berdasar deskripsinya inilah kita mengenalinya.

* Raih manfaat daripadanya; untuk dapat meraih manfaat diperlukan seni tersendiri. Seorang seniman ukir, misalnya, menghasilkan sebuah karya seni yang bermutu tinggi dari sebatang kayu, yang bagi kita hanya sebatang kayu bakar.

YANG BESAR DARI YANG KECIL.

Slogan sederhana ini, bisa saja hanya slogan yang kecil, tanpa makna, dibandingkan slogan-slogan besar yang sering diutarakan oleh para politikus. Namun bagi mereka yang mampu memaknainya dengan baik, dan mengerjakan tugas-tugasnya secara selaras, bisa jadi memperoleh manfaat yang tak terukur dari slogan kecil tersebut.

Slogan tadi hanya salah-satu dari banyak slogan bagus, yang seringkali kita abaikan begitu saja. Untuk menemui sesuatu, diperlukan suatu motivasi yang jelas yang melatar-belakanginya. Motivasi itulah yang menggerakkan. Temuan kitapun akan sesuai dengan motivasi tersebut. Bila yang memotivasinya bersifat keduniaan, tentu hasil yang ditemui juga keduniaan sifatnya.

Tak jarang kita tak mengenali apa yang hendak kita temui, justru ketika kita telah menemuinya. Lucu memang. Tapi mengapa ini bisa terjadi? Ini terjadi karena kita kurang melengkapi diri dengan deskripsi dari yang hendak kita temui itu. Persiapan dalam melakukan senantiasa penting.

Sebagai ilustrasi, disajikan pengalaman berikut. Saya ditelpon oleh seseorang. Setelah saya memperkenalkan diri saya, kamipun berbincang-bincang. Dalam suatu saat perbincangan kami, ia mengatakan “Oh, jadi Andalah si anu itu ya?” Saya berpura-pura tak mengenal si anu, yang disebutkan. “Si anu yang pernah mengatakan hal serupa dengan yang Anda katakan itu”, jelasnya. Kami memang belum pernah bertatap-muka sebelumnya, namun rupanya ia mengenali ciri saya.

Kita tak perlu saling jumpa, namun kita bisa bersahabat. Memang untuk mengenali, banyak cara yang dapat digunakan. Melalui perkenalan fisik yang kasat-indria adalah cara yang paling lumrah, dan juga rendah tingkatannya.

Mengenali melalui ‘pemikiran’, memiliki tingkatan yang lebih tinggi. Yang serupa ini bahkan bersifat lebih ajeg, dan lebih tahan terhadap kecenderungan lupa. Tak jarang perkenalan fisik, malah membalik pandangan kita dari semula. Ini membuktikan bahwa betapa lekatnya pandangan kasat bagi kebanyakan kita.

PANDANGAN KASAT SEBAGAI PENGHALANG.

“Pandangan kasat adalah halangan terdepan yang mesti dilalui dalam konteks spiritual”, demikian seorang penekun pernah mengungkapkan pada saya. Lebih jauh ia menambahkan, “Dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk dapat mengentaskan pandangan kasat ini, apalagi bagi mereka yang telah terlanjur selama sebahagiaan besar usianya menggunakan pola serupa”.

Rupanya, apa yang dikatakan juga terjadi pada saya. Dan sayapun sependapat dengannya tentang paradigma ini. Kita, memiliki bakat ‘bawaan’ masing-masing. Dari tiga putra-putri saya misalnya, hanya satu yang berbakat menyanyi, dua yang berbakat menggambar dan drama dan satu yang menunjukkan minat besar terhadap alam dan makhluk hidup.

Bakat, bisa dideteksi pada usia yang amat dini. Justru dalam usia inilah mereka masih murni, belum dipoles dan terkontaminasi berbagai hal. Para akhli, menyarankan agar kita menemu-kenali bakat-bakat unggul dari seorang anak, justru sedini mungkin, untuk dibimbing secara profesional guna pengembangannya. Terlampau banyak faktor yang menghalangi pandangan kasat untuk dapat melihat keberadaan sesuatu secara lebih hakiki. Faktor-faktor penghalang tersebut, bisa dari luar maupun dari dalam. Penghalang dari dalam inilah yang justru amat sulit dientaskan.

PENGARUH KESAN AWAL PADA KECENDERUNGAN SERTA BAKAT.

Kesan awal juga amat berpengaruh dalam melihat sesuatu secara lebih hakiki. Kesan, seringkali mengotori pandangan kita. Bilamana kita tak pernah merasakan manisnya gula, kita tak akan pernah dapat mengenali bahwa apa yang kita kecap itu adalah gula. Bila untuk pertama kali kita mengenal rasa kopi dari kopi bali asli misalnya, maka kopi yang tak asli ataupun kopi yang bukan kopi bali, akan kita kenali dengan mudah melalui aromanya. Demikianlah pengaruh dari kesan awal, terhadap pengenalan dan penilaian kita. Darimana kesan awal ini diperoleh?

Kesan awal kita peroleh ketika masa kanak-kanak di lingkungan dimana kita dilahirkan. Nah, dari sinilah kita mengembangkan kepribadiaan menjadi manusia mandiri. Bila terlahir di lingkungan pedagang, besar kemungkinannya kita memiliki ‘naluri bisnis’ yang lebih tinggi dari rata-rata orang. Demikian pula bila kita terlahir dan dibesarkan dalam lingkungan spiritual-religius. Kecenderungan kita terhadap yang bersifat spiritual-religius akan relatif besar ketimbang yang lainnya.

Terlepas dari bakat bawaan, memperkenalkan secara dini moral-etik pada anak-anak, akan membentuk kecenderungan positif padanya. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa, ini bukanlah faktor yang bersifat keturunan. Sifat ‘ksatrya’ tidaklah diturunkan, demikian pula ‘ke-brahmana-an’ atau yang lainnya. Kenapa seseorang terlahir dalam lingkungan tertentu? Karma Phala dan Samsara adalah ajaran yang memberikan jawaban yang jelas tentang itu.

KEHIDUPAN TERDAHULU, PENENTU BAKAT BAWAAN.

Mereka yang dalam usia amat dini telah menunjukkan bakat-bakat spiritual, seringkali membuat kita terkagum-kagum. Kekaguman mana juga seringkali mengarahkan kita pada pandangan kurang rasional sampai ketahyulan. Karena kita percaya pada hal-hal yang ir-rasional, maka apapun yang kita amati kita kaitkan dengan itu. Inilah awal dari penipuan-penipuan bermodus spiritual yang banyak kita jumpai belakangan ini. Penipuan-penipuan serupa ini, dimungkinkan justru oleh kita sendiri. Di kalangan umat beragamapun penipuan serupa ini berulang-ulang.

Bila kita memandangnya dengan jernih, akan terlihat kalau sebetulnya hal-hal mengagumkan itu masih merupakan kewajaran. Bakat-bakat khusus senantiasa kita temui, dalam berbagai bidang kehidupan. Bagi yang kurang memahami Samsara, tentu saja ini merupakan sesuatu yang amat sangat aneh. Bagi yang baru tersentuh ajaran pada kehidupan ini, tentu masih perlu melanjutkan evolusi batinnya setahap demi setahap. Apabila dalam perjalanannya kematian datang menjemput, maka perjalanan akan dilanjutkan lagi pada kehidupan mendatang. Tergantung pada tingkat pencapaiannya kini, lanjutannyapun di awali dari berbagai tingkatan. Akan amat bersyukur bila kita terlahir di kalangan penekun spiritual. Bila tidak, tentu kita mesti merintisnya dari fase yang sangat awal lagi, sementara umur amatlah singkat.