Jangan jadikan candaan, ayat qur’an dan Hadist

Sebagaimana dalam surat An Nisaa ayat 140 dinyatakan: “Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian) tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahannam.”

Berturut-turut pula diterangkan dalam surat At Taubah: “Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan RasulNya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti.” (QS. At Taubah : 64)

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyabersenda-gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya, kamu selalu berolok-olok?” (QS. At Taubah : 65)

“Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At Taubah : 66)

Ayat ini menjelaskan sikap orang-orang munafik terhadap Allah, RasulNya dan kaum mukmin. Kebencian yang selama ini mereka pendam, terlahir dalam bentuk ejekan dan olok-olokan terhadap Allah dan RasulNya. Dahulu musuh-musuh Allahpun memelesetkan ucapan salam menjadi assaamu ‘alaikum, yang artinya (semoga kematianlah atas kamu). Dan banyak lagi plesetan serta olok-olok seperti itu. Mereka tujukan ucapan itu kepada Rasulullah SAW.

Dalam istilah bahasa Arab dikenal kata Istihza’, secara bahasa artinya sukhriyah, yaitu melecehkan. “Al huzu’, adalah senda-gurau yang tersembunyi. Kadang-kala disebut juga senda-gurau atau kelakar.” Dari penjelasan di atas, dapat kita ketahui makna istihzaa’, yaitu pelecehan dan penghinaan dalam bentuk olok-olokan dan kelakar. Secara syar’i Istihza’ adalah suatu bentuk pelecehan atau memperolok-olok agama. Barangsiapa yang memperolok Rasul-Nya, berarti ia telah memperolok Allah. Barang siapa yang memperolok ayat-ayat-Nya, berarti ia telah memperolok Rasul-Nya. Barang siapa yang memperolok sebagiannya maka ia telah memperolok seluruhnya.

Jika kita melihat judul di atas saya menuliskan “BECANDA DOA APALAGI AYAT LEBIH DARI KUALAT!”. Jika kita lihat arti kualat dalam kamus besar bahasa Indonesia yaitu; 1. Mendapat bencana (karena berbuat kurang baik kepada orang tua dsb); kena tulah; 2. Cak celaka; terkutuk. Melihat arti kata kualat dan pemahaman ayat-ayat di atas maka bisa kita sama-sama pahami bahwa ; dalam memperolok-olok agama musibah yang didapatakan lebih dari kualat.

Karena itu mulai sekarang mari hati-hati, segera bertaubat. Saya yakin tidak ada unsur kesengajaan di dalam prosesnya. Tapi setelah ini jauhi becandaan seperti itu. Jangan ikut-ikutan walaupun sekedar gaul. Mendingan dibilang ga gaul daripada becanda doa, apalagi ayat, ingat jangan mau kualat, mending segera taubat!

Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik di sisi ALLAH adalah yang mengamalkannya.