Sumber kebaikan dalam kehidupan

Umumnya orang minta hak atas ketidakadilan, berita kriminal seringkali kita lihat keluarga korban yang dizalimi lalu minta pembalasan setimpal kepada sipelaku, adakah mereka yang dizalimi melepaskan kezaliman begitu saja ?. Bisa jadi ada sesuai tingkat kezaliman dan sifat individunya. Dalam artian ada yg bisa ditolerir dan ada yg tidak.

Bagaimana misalnya bila si buah hati seseorang ada kasus sampai menderita karena kezaliman orang lain ?. Atau anggota keluarganya yg lain ? Bagaimanakah sifat manusia pada umumnya ?

Allah yang maha suci maha mengetahui setiap fitrah kecenderungan manusia ciptaan-Nya karenanya ada hukum Qishash ( balas sesuai kezalimannya), dan denda akibat kezaliman manusia dengan manusia, sesuai hukum Syariat Islam. Semuanya mengandung maslahat dan keadilan yang tinggi.

Beginilah akibat hukum Allah tidak diterapkan dalam masyarakat, kita sebagai individu merasakan masalah kehidupan yang menyangkut masyarakat luas ini bagai tidak ada titik solusi, bahkan kezaliman justru makin menjadi. Siapa yang salah ?

Siapa yang salah misalnya pabrik pesawat terbang yang paling tahu produk buatannya, lalu mengeluarkan buku petunjuk perawatan produk pesawat tsb, gak taunya sipengguna tidak menggubris buku petunjuk itu dan tidak digunakan, kemudian penggunaannya diganti dengan berpedoman kepada buku perawatan mobil misalnya ? Tentu menjadi masalah.

Kehidupan tanpa nilai Qur’ani akan berdampak buruk dan tidak ada rahmat disana.

Balik lagi kemanusia, Diatas semua hak manusia dan terkait dengan hukumnya dengan sesama manusia, disana ada hukum lain yang menyangkut hak Allah yang maha besar dan maha agung. Hak untuk disembah, dijalankan perintah-Nya dan dijauhi larangan-Nya. Ada balasan agung dibalik amal shalih, dan kesabaran dalam beribadah karena mengharapkan redho-Nya. Pengorbanan yang ikhlas baik harta dan nyawa untuk Agama-Nya, balasan tinggi menanti. Inilah yang terjadi disaat awal Islam, dimana para Shahabat Rosulullah Saw yang bercita-cita syahid dijalan-Nya, ikhlas memperjuangkan agama-Nya

( Renungan )

Bagaimana kita yang baru dituntut berkorban saja untuk shalat tepat waktu, berjilbab, kurang tidur karena tahajud, dan meluangkan waktu untuk membaca Qur’an ? Adakah itu secara gegap gempita disambut ?

Masihkah kita mengaji memilih-milih Ustadz, bukan melihat sisi hujjah, misalnya Ustadz yang satu pintar bicara yang satu tidak, hadist yang dibacakan si A benar dan si B benar tetapi kita seringkali tidak melihat hadistnya, ayatnya, tetapi justru melihat orangnya.

Padahal Nabi Musa dikenal tidak fasih bicara sehingga ada doa mahsyur : Robbi shrohlii shodri wayassirli amri wahlul uqdata fii lisaani. (.. Lancarkanlah kekeluan lisanku ) agar Fir’aun memahami dakwahnya.

Segala sesuatu harus Allah yang dituju, dan dijadikan niatan dalam setiap amal shaleh agar tidak sia-sia semua ibadah kita. Allah yang maha agung akan membalas setiap pengorbanan, rintihan doa, dan permohonan ampun yang diikhlaskan hanya kepada-Nya. Dan kebaikan pada umat manusia akan jelas nampak bila Allah dan agamanya yang dituju, selain bernilai ibadah yakinlah disana ada kebaikan dan keadilan untuk seluruh mahluk hidup, bila Islam menjadi rujukan kita didalam kehidupan.